
Candi Borobudur
CANDI BOROBUDUR: MANIFESTASI DARI CATTĀRI ARIYA SACCĀNI DAN DAŚA BHŪMI
Pendahuluan
Candi Borobudur merupakan salah satu monumen Buddhis terbesar dan paling kompleks yang diwariskan dari peradaban Jawa masa klasik. Keagungan Borobudur tidak hanya terletak pada skala dan keunikan arsitekturnya, tetapi juga pada keterpaduan antara struktur bangunan, relief naratif, simbolisme stupa, serta perjalanan vertikal yang membawa seseorang dari bagian dasar menuju puncak.
Berdasarkan karakter tersebut, muncul sebuah hipotesis bahwa rancangan Candi Borobudur dapat dipahami sebagai suatu manifestasi arsitektural dari prinsip-prinsip filosofis Buddhis, khususnya Cattāri Ariya Saccāni dan Daśa Bhūmi.
Dalam teori ini, kedua konsep tersebut ditempatkan pada dua struktur interpretatif yang berbeda.
Cattāri Ariya Saccāni menjadi landasan konseptual bagi pembacaan empat tatar, sedangkan Daśa Bhūmi menjadi landasan konseptual bagi pembacaan sepuluh tingkat atau lantai Borobudur.
Dengan demikian, keduanya tidak dipaksakan sebagai satu sistem yang sama, tetapi dipandang sebagai dua lapisan pemikiran yang kemungkinan dapat menjelaskan hubungan antara struktur arsitektur Borobudur dan filosofi Buddhis.
I. EMPAT TATAR BOROBUDUR
Manifestasi Filosofis Cattāri Ariya Saccāni
Cattāri Ariya Saccāni, atau Empat Kebenaran Mulia, merupakan salah satu dasar fundamental ajaran Buddha yang menjelaskan mengenai dukkha, samudaya, nirodha, dan magga.
Dalam teori ini, prinsip empat kebenaran tersebut menjadi inspirasi konseptual untuk membaca perjalanan Borobudur melalui empat tatar, yaitu:
Samsara → Marga → Palla → Nibbana/Nirwana
Keempat tatar tersebut dipahami sebagai tahapan besar perjalanan spiritual manusia.
1. Tatar Samsara
Tatar pertama berada pada bagian dasar Borobudur.
Bagian ini berkaitan dengan 160 panel relief Karmawibhangga, yang menggambarkan berbagai perbuatan manusia dan konsekuensi karmanya.
Dalam teori ini, posisi Karmawibhangga pada bagian dasar mempunyai makna simbolis sebagai representasi Samsara, yaitu kondisi kehidupan yang masih berada dalam lingkaran keterikatan, karma, keinginan, dan akibat perbuatan.
Samsara menjadi titik awal perjalanan kesadaran.
Pada tahap ini manusia diperhadapkan dengan realitas kehidupan dan konsekuensi tindakannya. Secara konseptual, tahap tersebut dapat dikaitkan dengan Dukkha, yaitu kesadaran terhadap problematika eksistensi.
2. Tatar Marga
Tatar kedua berada pada rangkaian lantai persegi, khususnya lantai 3–6 dalam kerangka teori ini.
Bagian tersebut memiliki rangkaian relief Jataka, Avadana, Lalitavistara, dan Gandavyuha.
Relief-relief tersebut menyajikan kisah mengenai kehidupan, kebajikan, pengorbanan, perjalanan, pencarian kebijaksanaan, dan perkembangan spiritual.
Marga berarti jalan.
Oleh karena itu, Tatar Marga dipahami sebagai tahap perjalanan dari kesadaran terhadap kondisi Samsara menuju jalan pengembangan kebajikan dan kebijaksanaan.
Dalam kerangka Cattāri Ariya Saccāni, konsep Marga mempunyai hubungan erat dengan Magga, yaitu jalan menuju pembebasan.
3. Tatar Palla
Tatar ketiga merupakan bagian lantai 7–9, yang berbentuk melingkar.
Pada bagian ini terdapat 72 stupa berlubang yang tersusun pada tiga teras melingkar.
Perubahan bentuk dari bidang persegi yang kaya akan relief menuju bidang melingkar dengan stupa-stupa menunjukkan perubahan karakter arsitektur yang signifikan.
Dalam teori ini, perubahan tersebut ditafsirkan sebagai perjalanan menuju kondisi yang semakin hening, kontemplatif, dan terbebas dari kompleksitas narasi duniawi.
Tatar Palla merupakan tahap transisi menuju pembebasan.
4. Tatar Nibbana/Nirwana
Tatar keempat berada pada puncak Borobudur, yang ditandai oleh stupa induk.
Dalam teori ini, stupa induk merupakan simbol tujuan akhir perjalanan spiritual, yaitu Nibbana/Nirwana.
Perjalanan yang dimulai dari Samsara berakhir pada simbol pembebasan di puncak.
Dengan demikian, empat tatar dapat dirumuskan:
SAMSARA → MARGA → PALLA → NIBBANA/NIRWANA
Empat tatar tersebut merupakan manifestasi konseptual dari perjalanan yang diinspirasi oleh Cattāri Ariya Saccāni.
II. SEPULUH LANTAI BOROBUDUR
Manifestasi Filosofis Daśa Bhūmi
Di samping struktur empat tatar, Borobudur memiliki sepuluh tingkat vertikal.
Dalam teori ini, sepuluh tingkat tersebut dipandang sebagai manifestasi arsitektural yang secara konseptual terinspirasi oleh Daśa Bhūmi, yaitu sepuluh tingkat perkembangan Bodhisattva dalam tradisi Buddhisme Mahayana.
Daśa Bhūmi menggambarkan perjalanan bertahap seorang Bodhisattva menuju perkembangan spiritual yang semakin sempurna.
Sepuluh Bhūmi tersebut adalah:
- Pramuditā Bhūmi — tingkat kegembiraan
- Vimalā Bhūmi — tingkat kemurnian
- Prabhākarī Bhūmi — tingkat yang bercahaya
- Arciṣmatī Bhūmi — tingkat api yang berkobar
- Sudurjayā Bhūmi — tingkat yang sulit ditaklukkan
- Abhimukhī Bhūmi — tingkat menghadap realitas
- Dūraṅgamā Bhūmi — tingkat yang pergi jauh
- Acalā Bhūmi — tingkat yang tak tergoyahkan
- Sādhumatī Bhūmi — tingkat kebijaksanaan yang baik
- Dharmameghā Bhūmi — tingkat awan Dharma
Dalam teori ini, perkembangan vertikal Borobudur dibaca sebagai metafora perkembangan spiritual: semakin tinggi seseorang bergerak dalam struktur bangunan, semakin tinggi pula tingkat transformasi batinnya.
Sepuluh tingkat tersebut tidak digunakan untuk menggantikan konsep empat tatar, melainkan menjadi lapisan kedua dalam struktur filosofis Borobudur.
III. DUA DIMENSI MANIFESTASI BOROBUDUR
Berdasarkan teori tersebut, Candi Borobudur dapat dibaca melalui dua dimensi utama.
Dimensi Horizontal-Konseptual
Cattāri Ariya Saccāni → 4 Tatar
Samsara → Marga → Palla → Nibbana/Nirwana
Dimensi ini menjelaskan arah perjalanan spiritual.
Dimensi Vertikal-Spiritual
Daśa Bhūmi → 10 Tingkat
Pramuditā → Vimalā → Prabhākarī → Arciṣmatī → Sudurjayā → Abhimukhī → Dūraṅgamā → Acalā → Sādhumatī → Dharmameghā
Dimensi ini menjelaskan perkembangan spiritual secara bertahap.
Keduanya membentuk sebuah struktur konseptual:
Cattāri Ariya Saccāni memberikan kerangka empat tatar perjalanan, sedangkan Daśa Bhūmi memberikan kerangka sepuluh tingkat perkembangan Bodhisattva.
Dengan demikian, Borobudur dapat dipahami sebagai sebuah manifestasi arsitektural dari perjalanan spiritual, yang menggabungkan pengalaman ruang, narasi, gerak vertikal, dan simbolisme Buddhis.
IV. HIPOTESIS MANIFESTASI ARSITEKTURAL
Jika hipotesis ini dapat dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut, maka pembangunan Borobudur dapat dipahami bukan hanya sebagai pencapaian teknologi dan arsitektur, tetapi juga sebagai perwujudan gagasan filosofis dalam bentuk ruang dan struktur.
Bagian dasar memperlihatkan dunia manusia dan konsekuensi karma melalui Karmawibhangga. Perjalanan kemudian bergerak melalui rangkaian narasi Jataka, Avadana, Lalitavistara, dan Gandavyuha yang menggambarkan jalan, teladan, dan pencarian kebijaksanaan.
Selanjutnya, bentuk bangunan berubah menjadi teras-teras melingkar dengan 72 stupa berlubang. Perubahan ini dapat dibaca sebagai transformasi dari dunia naratif menuju pengalaman yang lebih abstrak dan kontemplatif.
Perjalanan akhirnya mencapai stupa induk di puncak, yang dalam kerangka teori ini dipahami sebagai simbol Nibbana/Nirwana.
Dengan demikian:
SAMSARA
↓
MARGA
↓
PALLA
↓
NIBBANA/NIRWANA
berjalan secara bersamaan dengan perjalanan vertikal:
PRAMUDITĀ
↓
VIMALĀ
↓
PRABHĀKARĪ
↓
ARCIṢMATĪ
↓
SUDURJAYĀ
↓
ABHIMUKHĪ
↓
DŪRAṄGAMĀ
↓
ACALĀ
↓
SĀDHUMATĪ
↓
DHARMAMEGHĀ
Kedua rangkaian tersebut memberikan kemungkinan pembacaan bahwa Borobudur dirancang sebagai perjalanan yang harus dialami, bukan sekadar bangunan yang harus dilihat.
Kesimpulan
“Candi Borobudur: Manifestasi dari Cattāri Ariya Saccāni dan Daśa Bhūmi” merupakan sebuah hipotesis interpretatif yang berusaha membaca struktur Borobudur melalui dua kerangka filosofis Buddhis.
Cattāri Ariya Saccāni digunakan sebagai inspirasi konseptual untuk memahami empat tatar: Samsara, Marga, Palla, dan Nibbana/Nirwana.
Sementara itu, Daśa Bhūmi digunakan sebagai inspirasi konseptual untuk memahami sepuluh tingkat perjalanan vertikal sebagai tahapan perkembangan spiritual Bodhisattva.
Dengan pendekatan tersebut, Borobudur dapat ditafsirkan sebagai suatu arsitektur spiritual yang menerjemahkan filosofi Buddhis ke dalam ruang, bentuk, relief, dan perjalanan vertikal.
Teori ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan hasil penelitian arkeologi yang telah ada, melainkan sebagai hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian multidisipliner, terutama melalui kajian arkeologi, sejarah, arsitektur, ikonografi, epigrafi, Buddhologi, serta kajian terhadap teks-teks Buddhis yang relevan.
